PERKEDEL: Kentang yang Menjelma


 

Jauh di Eropa Utara, tepatnya di Belanda, Denmark, dan Jerman, hidangan bernama frikadeller atau frikadel telah lama dikenal. Ini adalah bola-bola daging cincang yang dipadatkan, dibumbui rempah, lalu digoreng hingga kecokelatan. Frikadeller menjadi makanan sehari-hari masyarakat Eropa, terutama di kalangan kelas menengah ke bawah karena terbuat dari daging cincang yang lebih ekonomis. 

Kata "frikadel" dalam bahasa Belanda merujuk pada "ronde schijf of bal gehakt" cakram atau bola daging giling. Ketika kapal-kapal VOC berlayar ke Nusantara, mereka membawa serta tradisi kuliner ini. 

Sebelum kisah perkedel dimulai, ada babak penting, kedatangan kentang ke Nusantara. Kentang bukan tanaman asli Indonesia. Ia berasal dari dataran tinggi Andes di Amerika Selatan, dibawa penjelajah Spanyol ke Eropa, lalu menyebar ke berbagai penjuru dunia melalui jalur perdagangan kolonial. 

Pada masa penjajahan Belanda, kentang diperkenalkan luas sebagai bagian sistem pertanian dan pangan mereka. Belanda membudidayakan kentang di dataran tinggi sejuk seperti Bandung, Malang, dan sekitarnya. Namun masyarakat pribumi awalnya belum terbiasa mengolah kentang sebuah teka-teki kuliner yang menanti dipecahkan.

Jawabannya datang dari para perempuan Jawa yang bekerja di rumah-rumah orang Belanda. Mereka adalah para mbok, pembantu rumah tangga pribumi yang direkrut mengurus berbagai keperluan, termasuk memasak. Dalam buku sejarah, mereka sering disebut "balung kere", kelas sosial terendah dalam struktur masyarakat kolonial. Namun justru dari tangan merekalah lahir berbagai hidangan akulturasi yang kini menjadi ikon kuliner Indonesia.

Setiap hari, para mbok mengamati bagaimana nyonya Belanda memasak frikadeller. Namun ada satu masalah, daging adalah bahan mahal. Gaji mereka pas-pasan, tak mungkin membeli daging untuk keluarga di rumah.

Maka, dengan kreativitas dari keterpaksaan, mereka bereksperimen. Mereka mengganti daging dengan kentang, bahan murah, mudah didapat, dan mengenyangkan. Kentang direbus atau digoreng, dihaluskan, lalu ditambahi bumbu lokal: bawang putih, merica, seledri, daun bawang. Agar tidak hancur saat digoreng, mereka membalutnya dengan telur kocok, teknik yang sama dengan frikadeller asli. 
Hasilnya? Hidangan baru yang sangat berbeda dari frikadeller Belanda. Tekstur lembut di dalam, renyah di luar. Rasa gurih dengan aroma rempah khas Nusantara. Harga murah, bisa dinikmati keluarga miskin sekalipun.

Dari sinilah nama "perkedel" lahir. Lidah Jawa yang sulit mengucapkan "frikadel" mengubahnya menjadi "perkedel" atau "bergedel". Dalam bahasa Jawa, kata ini ditulis sebagai ꦧꦼꦒꦼꦢꦶꦭ꧀ (begedil).

William Wongso, pakar kuliner Indonesia, membenarkan bahwa perkedel adalah adaptasi nama dari bahasa Belanda, frikadel. Kata tersebut mencerminkan bahan utamanya yang asli, yaitu daging cincang. "Asal-usulnya nama Belanda, terutama di sana pakai daging cincang, pakai rempahnya pala, kasih telur, lalu digoreng," ujarnya.

Seiring waktu, perkedel menyebar dari dapur-dapur rumah tangga pribumi ke berbagai lapisan masyarakat, menjadi hidangan merakyat yang dinikmati semua kalangan.

Di media sosial, ramai perbincangan bahwa "perkedel" adalah akronim dari "persatuan kentang dan telur". Namun menurut Fauzan Al-Rasyid, pengamat linguistik, anggapan ini keliru. Ia menyebutnya sebagai "kerata basa" atau "bakronim" kebiasaan mengartikan kata dengan membedah suku kata, meski secara etimologi tidak benar. 

Memang benar perkedel terbuat dari kentang dan telur. Tapi sejarahnya jauh lebih kompleks. Ada kisah tentang kolonialisme, adaptasi budaya, dan kreativitas para perempuan yang tak bernama.
Dalam kehidupan sehari-hari, perkedel memiliki peran unik. Ia bukan makanan utama, tapi juga bukan sekadar camilan. Ia adalah lauk pendamping yang setia menemani hidangan utama. Perkedel sering hadir dalam acara kenduri dan selamatan. Dalam tumpeng, ia menjadi elemen yang memperkaya hidangan. Dalam menu prasmanan, ia selalu ludes lebih dulu. 

Ibu Enung, pedagang perkedel di Bandung, mengungkapkan banyak orang Indonesia kini tak lagi mengenal perkedel daging ala frikadeller. "Masyarakat sudah terbiasa membuat perkedel dari kentang. Harganya lebih murah. Biasanya perkedel hanya dijadikan pelengkap lauk atau variasi gorengan." 
Perkedel mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan ibu dari kreativitas. Ketika daging terlalu mahal, kentang hadir sebagai penyelamat. Ketika lidah Belanda bertemu lidah Jawa, lahirlah rasa baru yang tak kalah lezat.

Dalam filsafat Jawa, ada konsep "mangan ora mangan sing penting kumpul", makan atau tidak, yang penting berkumpul. Perkedel adalah wujud nyata filosofi ini: makanan sederhana yang mampu mengumpulkan keluarga di meja makan, menghangatkan suasana, dan menciptakan kebersamaan.

Referensi:
Wikipedia Indonesia. "Perkedel." Diakses 2025.
Kompas.com. "Perkedel Ternyata Bukan Asli Indonesia, Ini Sejarah dan Perkembangannya." 18 September 2025.
Kompas.com. "Sejarah Perkedel, Camilan Gurih Warisan Budaya Nusantara." 26 April 2025.
RRI.co.id. "Sejarah Singkat Perkedel dan Cara Membuatnya." 10 April 2025.
Kompas.com (Buku). "Ini Dia Sejarah Asal-usul Perkedel." 8 November 2023.
Wikipedia Bahasa Melayu. "Bergedel." Diakses 2025.
Kompas.com. "Bukan Akronim 'Persatuan Kentang dan Telur', Ini Asal-usul Perkedel." 17 Februari 2025.

Komentar

Postingan Populer