Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" bukan sekadar nyanyian kanak-kanak. Ia adalah pengakuan atas identitas agung yang pernah menggetarkan dunia: bahwa bangsa Indonesia lahir dari samudra, dibesarkan oleh ombak, dan dipertemukan oleh laut sebagai jalan raya yang mempersatukan.

Siapa mereka? Nenek moyang kita adalah penutur Austronesia yang bermigrasi besar-besaran 4.500-2.000 tahun SM dari daratan Asia. Namun temuan terbaru tahun 2025 dalam "Journal of Archaeological Science" membuktikan kemampuan maritim yang jauh lebih tua: masyarakat kuno di Filipina dan Asia Tenggara telah membangun perahu canggih dan menguasai pelayaran sejak 40.000 tahun lalu ribuan tahun sebelum Magellan lahir. Di situs Mindoro dan Timor-Leste, ditemukan sisa-sisa ikan laut dalam seperti tuna dan hiu, membuktikan mereka telah mengarungi lautan lepas.

Teknologi perahu mereka luar biasa. Perahu kuno Rembang abad ke-7 M yang ditemukan di Desa Punjulharjo membuktikan kecanggihan teknik pasak tanpa paku besi, lebih tua dari Candi Borobudur. Kapal Jung Jawa abad ke-16 mampu mengangkut hingga 1.000 ton, membuat kagum bangsa Portugis. Hingga kini, Kapal Pinisi Sulawesi Selatan dan Perahu Sandeq suku Mandar masih hidup yang terakhir dengan filosofi delapan awak Passandeq melambangkan kepemimpinan dan kebersamaan, mampu berlayar hingga Papua Nugini.

Jaringan perdagangan mereka membentang luas. Situs Bongal di Tapanuli Tengah (abad ke-4 hingga ke-8 M) mengungkap ribuan artefak dari tiga benua: koin Arab-Sasaniyah, dirham Umayyah, keramik Dinasti Tang Tiongkok, manik-manik Romawi, kaca dari Persia, hingga lempengan kuningan bertuliskan huruf Suryani dari Suriah kuno. Uji karbon menunjukkan usia abad ke-4 hingga ke-8 M, mengisi "gap tujuh abad" catatan sejarah tentang Barus. Sementara Pelabuhan Muara Djati Cirebon sejak 1415 M menjadi pusat kosmopolitan yang dikunjungi pedagang Arab, Persia, India, hingga Tiongkok armada Laksamana Cheng Ho bahkan singgah untuk membeli perbekalan dalam perjalanannya ke Majapahit .

Tak hanya barang, mereka juga membawa misi diplomasi dan percampuran darah lintas benua. Penelitian Laboratorium Genetika Eijkmann membuktikan sejak abad ke-8 M, orang Nusantara telah melakukan perkawinan campur dengan penduduk Kepulauan Comoro di timur Tanzania. Penduduk Madagaskar bahkan mempunyai garis ibu yang berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan, sekitar abad ke-11 M sezaman dengan kejayaan Sriwijaya. Gabriel Ferrand mengonfirmasi keberadaan koloni orang Nusantara di Madagaskar pada milenium pertama.

Catatan Arab dalam Ajaib Al Hindi karya Buzurg ibn Shahriar (awal abad ke-11 M) mengisahkan sekitar seribu perahu orang Waq-waq (sebutan Arab untuk orang Nusantara) yang berlabuh di Sofala, Mozambik, mencari kulit kura-kura, amber, hingga budak membuktikan pelayaran lintas samudra hingga pantai timur Afrika. Sementara naskah Kitab Silsilah mencatat kisah lima Opu Daeng bersaudara dari Luwu' yang berlayar ke Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan Riau, melakukan diplomasi dan perkawinan politik yang melahirkan jaringan kekuasaan Bugis yang luas.

Budaya bahari juga terpelihara dalam tradisi hidup. Di Palembang, jantung Kerajaan Sriwijaya, ritual perahu bidar masih lestari: sebelum lomba, para pemilik menyiapkan sesaji dan berdoa di Masjid Ki Marogan sinkretisme antara kepercayaan leluhur dan Islam. Prasasti Kedukan Bukit (682 M) sendiri telah menyebutkan perjalanan suci Dapunta Hyang menggunakan sampan, membuktikan ritual maritim telah ada sejak masa Sriwijaya. Suku Bajo, suku laut nomaden, hingga kini masih memiliki kemampuan berenang dengan mata terbuka seperti yang dicatat sumber-sumber Cina kuno. Para Passandeq (awak perahu Sandeq) mengajarkan gotong royong dan kebersamaan, sementara masyarakat pesisir di berbagai daerah masih rutin menggelar pesta laut dan sedekah laut sebagai wujud syukur.

Kini, di era modern, semangat bahari itu meredup. Di Palembang hanya tersisa dua bidar asli dari puluhan yang dulu berjaya. Para pemilik bidar rela merogoh kocek Rp20-30 juta per tahun hanya untuk merawat perahu warisan orangtua, menyimpannya seperti rumah sendiri. Namun secercah harapan mulai muncul: Festival Sandeq di Sulawesi Barat rutin digelar setiap September, lomba bidar di Palembang setiap 17 Agustus menjadi ajang mempertahankan tradisi perahu dayung kuno.

Maka, ketika kita menyanyikan lagu itu, kita bergumamkan pengakuan: nenek moyang kita bukan sekadar pengarung ombak, tetapi pembawa peradaban yang menabur benih kehidupan dari satu pulau ke pulau lain. Mereka mengajarkan bahwa lautan bukan tembok pemisah, melainkan jalan raya yang mempersatukan. Keberanian, kecerdasan, dan semangat menjelajah yang mereka miliki adalah modal berharga untuk membangun masa depan Indonesia sebagai poros maritim dunia.


Referensi:
Fuentes, R., & Pawlik, A. (2025). Journal of Archaeological Science
Soedewo, E. (2025). Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra. BRIN
Indonesia.go.id. Ziarah Lintas Samudera & Kejayaan Cirebon Bermula dari Muara Djati
RRI.co.id. (2025). Sandeq Sebagai Warisan Budaya
Kompas.id. (2025). Merawat Jejak Maritim Kuno Terakhir di "Bumi Sriwijaya"
Kitab Silsilah serta Hikayat dan Kisah Asal Raja-Raja. Pustaka BPK XII
Buzurg ibn Shahriar. (Awal abad ke-11 M). Ajaib Al Hindi

Komentar

Postingan Populer