Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa Indonesia belum sepenuhnya usai. Pada tanggal 29 September 1945, tentara AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) yang membawa serta NICA (Netherland Indies Civil Administration) mendarat di Jakarta. Meskipun awalnya mereka beralasan akan membebaskan tawanan perang dan melucuti tentara Jepang, bangsa Indonesia curiga bahwa kedatangan mereka merupakan upaya Belanda untuk menjajah kembali Nusantara. Kecurigaan ini memicu perlawanan di berbagai daerah, yang dilakukan melalui dua jalur utama, yaitu perjuangan bersenjata dan perjuangan diplomasi.

Dalam perjuangan bersenjata, Pertempuran Surabaya menjadi salah satu pertempuran paling heroik dan dikenang sebagai Hari Pahlawan. Sosok Bung Tomo dikenal sebagai pemimpin yang mengobarkan semangat perlawanan arek-arek Suroboyo melalui pidato-pidatonya yang membakar jiwa. Pertempuran ini dipicu oleh ultimatum dari pihak Inggris yang dipimpin oleh Mayjen E.C. Marsergh, yang meminta para pejuang Indonesia untuk menyerahkan diri paling lambat tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi. Namun, rakyat Surabaya dengan tegas menolak dan memilih untuk tetap mempertahankan kemerdekaannya hingga titik darah penghabisan. Pertempuran pun pecah dan berlangsung sengit selama tiga minggu.

Di Jawa Tengah, terjadi pula Pertempuran Ambarawa yang dilatarbelakangi oleh tipu muslihat. Awalnya, NICA dan sekutunya datang dengan maksud membebaskan tawanan perang, namun setelah bebas, para tawanan tersebut justru dipersenjatai dan digunakan untuk melawan Indonesia. Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigjen Bethell berusaha menguasai desa-desa di sekitar Ambarawa, namun upaya ini ditentang keras oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dalam pertempuran tersebut, Letkol Isdiman gugur, dan pimpinan pasukan kemudian diambil alih oleh Kolonel Soedirman. Dengan strategi pengepungan yang jitu dari berbagai penjuru seperti Banyumas, Salatiga, Surakarta, dan Yogyakarta, pasukan Sekutu akhirnya terdesak dan mundur pada tanggal 15 Desember 1945. Kemenangan ini kemudian diperingati sebagai Hari Infanteri.

Sementara itu, perlawanan sengit juga berkobar di Pulau Bali yang dikenal dengan peristiwa Puputan Margarana. Semangat untuk terus menguasai wilayah membuat Belanda, meskipun telah mengadakan Perundingan Linggajati, tetap berusaha menguasai Bali dan membentuk Negara Indonesia Timur. Rakyat Bali di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai menolak mentah-mentah keinginan Belanda tersebut. Pertempuran pecah di Tabanan, dan pada awalnya pasukan I Gusti Ngurah Rai berhasil memenangkan perlawanan. Namun, Belanda yang kewalahan segera mendatangkan pasukan tambahan yang lebih besar dan persenjataan yang lebih modern. Meskipun terdesak, I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya memilih untuk tidak menyerah dan melakukan puputan atau perang habis-habisan hingga akhirnya mereka gugur sebagai ksatria bangsa.

Di sisi lain, para pemimpin bangsa juga menyadari bahwa perjuangan fisik saja tidak cukup. Oleh karena itu, mereka juga menempuh jalur diplomasi di meja perundingan. Perjuangan diplomasi ini di antaranya ditempuh melalui Perjanjian Linggarjati, Perundingan Renville, dan Konferensi Meja Bundar.

Perjanjian Linggarjati dilaksanakan pada tanggal 11 November 1946 di Desa Linggarjati, yang terletak di perbatasan antara Cirebon dan Kuningan. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir, A.K. Gani, Susanto Tirtoprojo, dan Mohammad Roem, sementara pihak Belanda diwakili oleh Schermerhorn, dengan Lord Killearn dari Inggris sebagai penengah. Beberapa hasil penting dari perjanjian ini adalah Belanda mengakui secara de facto wilayah kekuasaan Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatra, dan Madura. Selain itu, disepakati pula pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

Setelah Agresi Militer Belanda I, perjuangan diplomasi kembali dilakukan melalui Perundingan Renville yang berlangsung dari tanggal 8 Desember 1947 hingga 17 Januari 1948. Uniknya, perundingan ini dilaksanakan di atas kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Renville. Indonesia diwakili oleh Amir Sjarifuddin, sedangkan Belanda diwakili oleh Abdulkadir Widjojoatmodjo. Perundingan ini diawasi oleh Komisi Tiga Negara yang terdiri dari Richard Kirby, Paul van Zeeland, dan Frank Graham. Hasil dari perundingan ini cukup berat bagi Indonesia, antara lain disepakatinya penghentian tembak-menembak, pengosongan daerah-daerah di belakang Garis van Mook dari tentara Indonesia, dan Belanda diberikan kebebasan untuk membentuk negara federal di daerah-daerah yang didudukinya.

Puncak dari perjuangan diplomasi adalah Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda, mulai tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949. Dalam konferensi ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta, sementara delegasi Belanda dipimpin oleh Mr. Van Maarseveen, dan UNCI diwakili oleh Chritchley. Konferensi ini menghasilkan keputusan yang sangat dinantikan, yaitu Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS). Beberapa poin lainnya adalah penundaan penyelesaian masalah Irian Barat hingga setahun kemudian, kewajiban RIS untuk membayar utang-utang Belanda, serta pengembalian hak milik Belanda seperti perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia.

Dengan demikian, perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia ditempuh melalui dua jalur yang berjalan beriringan. Di satu sisi, para pejuang mengangkat senjata di medan tempur, seperti di Surabaya, Ambarawa, dan Bali. Di sisi lain, para diplomat berjuang di meja perundingan melalui berbagai perjanjian hingga akhirnya mencapai puncaknya pada Konferensi Meja Bundar yang mengukuhkan pengakuan kedaulatan Indonesia.

Referensi: Ruangguru

Komentar

Postingan Populer