PEMPEK: Ketika Sungai Musi Menghidupi Sriwijaya
Terjemahan George Coedes, sejarawan Perancis, menyebutkan pohon kelapa, pinang, enau, dan sagu ditanam di taman tersebut. Sagu disebut di baris kedua dari 14 baris prasasti menunjukkan prioritasnya sebagai bahan pangan utama.
Prasasti ini juga menyebut kolam tempat hidup ikan-ikan sungai. Artinya, di abad ke-7, masyarakat Sriwijaya telah memiliki akses pada dua bahan utama pempek: ikan dari perairan Melayu dan tepung dari pohon sagu.
Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, Guru Besar Sejarah Lokal Universitas Sriwijaya, menegaskan: "Apa yang tercantum di dalam prasasti itu, merupakan bahan utama untuk membuat pempek, yaitu tepung dan gula merah. Keduanya berguna untuk membuat pempek dan cuko."
Meski nama "pempek" tak tertulis, semua bahan bakunya sudah tercatat rapi 14 abad lalu.
Penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Palembang memperkirakan pempek telah ada sejak abad ke-7, sezaman dengan kejayaan Sriwijaya. Wilayah Palembang dengan perairan luas menyediakan ikan melimpah, sementara sagu tumbuh subur.
Yang mencengangkan: pempek diduga menjadi asupan bagi tentara Sriwijaya yang akan berperang. Kombinasi protein tinggi dari ikan dan karbohidrat dari sagu menghasilkan energi besar. Lebih penting, pempek yang digoreng bisa bertahan berhari-hari cocok untuk bekal perjalanan panjang menuju medan tempur.
Pempek adalah makanan para pemenang, bahan bakar ekspansi kerajaan maritim terbesar di Nusantara.
Jika pempek sudah ada sejak Sriwijaya, mengapa dinamai "pempek"? Ternyata itu nama baru. Nama aslinya adalah kelesan.
Dalam bahasa Palembang, keles berarti "ditekan-tekan". Prosesnya: daging ikan giling ditekan di atas papan kayu menggunakan pir'an mangkok kuningan kecil berlubang, hingga adonan keluar seperti mi.
Nama kelesan digunakan berabad-abad. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823), kelesan menjadi makanan keluarga kesultanan. Sultan Mahmud Badaruddin II diketahui menyajikan kelesan dalam jamuan istana membuktikan bahwa jauh sebelum nama "pempek" populer, hidangan ini telah dinikmati bangsawan selama lebih dari seribu tahun.
Perubahan nama terjadi sekitar awal abad ke-20, tepatnya tahun 1916. Saat itu, pedagang keturunan Tionghoa mulai menjajakan kelesan secara keliling dari kampung ke kampung.
Masyarakat Palembang memanggil mereka "Apek" atau "Empek" panggilan akrab untuk lelaki Tionghoa. Setiap melihat mereka lewat, orang berteriak, "Apek, mampir!" Makanan yang dijual para "apek" pun disebut "pek-pek" atau "empek-empek", akhirnya menjadi "pempek".
Vebri Al Lintani, budayawan Palembang, menjelaskan: "Penjual kelesan itu paling banyak pemuda China yang di Palembang biasa dipanggil apek. Setiap orang yang ingin membeli memanggil apek itu pek-pek. Dari situ, kelesan dikenal sebagai makanan pek-pek dan melahirkan istilah pempek."
Namun Dinas Kebudayaan Kota Palembang menegaskan, pempek "murni dari Palembang". Yang dilakukan pedagang Tionghoa adalah memopulerkan makanan yang sudah ada ribuan tahun sebelumnya.
Dari bentuk sederhana, pempek kini memiliki puluhan variasi: lenjer (lonjong), adaan (bulat kecil), kapal selam (berisi telur), pistel (isi pepaya muda), dan lainnya.
Kuah pendampingnya, cuko, terbuat dari gula aren (dari pohon enau yang disebut Prasasti Talang Tuo), cabai, bawang putih, dan cuka. Perpaduan manis, asam, pedas ini menciptakan sensasi yang membuat ketagihan.
Pada 17 Oktober 2014, pemerintah menetapkan Pempek Palembang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Pengakuan ini mengukuhkan pempek sebagai identitas budaya yang perlu dilestarikan.
Prof. Farida menekankan: "Pempek bukan saja makanan tradisional melainkan melekat menjadi identitas orang Palembang sehingga terus dilestarikan."
Dari Palembang, pempek menyebar ke Sumatera dan seluruh Indonesia. Di Lampung ada pempek kates, di Jambi dan Bengkulu punya versi lokal semua berakar dari hidangan yang lahir di tepian Sungai Musi 14 abad lalu.
Pempek mengajarkan bahwa identitas bukan soal kemurnian statis, tapi kelangsungan dinamis. Seperti Sungai Musi yang tak pernah kering, pempek terus mengalir dalam denyut nadi kuliner Indonesia bukti bahwa peradaban besar meninggalkan jejak yang bisa kita rasakan langsung, bukan sekadar lihat di museum.
Referensi:
Prasasti Talang Tuo (684 M) dengan terjemahan George Coedes
Penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Palembang
Wawancara Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, Guru Besar Sejarah Lokal Universitas Sriwijaya
Vebri Al Lintani, budayawan Palembang
Dinas Kebudayaan Kota Palembang
Penetapan Pempek Palembang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, 17 Oktober 2014

Komentar
Posting Komentar