PECEL: Salad Para Raja


Pernah makan pecel? Hidangan sayur dengan siraman sambal kacang ini ternyata bukan sekadar makanan pinggir jalan. Jejaknya tercatat dalam prasasti berusia lebih dari 1.100 tahun! Dulu, pecel adalah hidangan istana yang disantap para raja dan bangsawan.

Nama "pecel" berasal dari bahasa Jawa Kuno, pêcêl (ꦥꦼꦕꦼꦭꄁ), yang berarti "ditumbuk" atau "dihancurkan". Ini merujuk pada proses pembuatan bumbu kacang yang diulek hingga halus, teknik yang sama masih dilakukan di dapur-dapur tradisional hingga kini. Dalam Bausastra Jawa (1939), pecel didefinisikan sebagai lauk dari sayur dengan sambal, membuktikan bahwa dari dulu ia memang hidangan pendamping nasi.

Bukti tertulis tertua tentang pecel ditemukan dalam Prasasti Taji, dikeluarkan tahun 901 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno, di era pemerintahan Raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M). Prasasti yang ditemukan di daerah Ponorogo, Jawa Timur, ini ditulis dalam aksara Jawa Kuno. Isinya mencantumkan daftar lengkap hidangan untuk upacara besar kerajaan. Di dalamnya, pecel disebut secara eksplisit sebagai salah satu makanan yang disajikan, bersama dengan 57 karung beras, enam ekor kerbau, 100 ayam, dan berbagai lauk lainnya.

Yang lebih mencengangkan, dalam prasasti yang sama disebut pula hidangan lain yang masih eksis hingga abad ke-21: sambel, pindang, rarawwan (rawon), rurujak (rujak), kurupuk (kerupuk), dawet, wajik, dan dodol. Ini membuktikan kontinuitas luar biasa dari tradisi kuliner Nusantara.

Fadly Rahman, peneliti sejarah kuliner dari Universitas Padjadjaran, menegaskan signifikansi temuan ini: "Berbagai makanan itu terdapat pada peninggalan sumber-sumber tulisan seperti prasasti dan naskah di Jawa Tengah dan Jawa Timur sejak abad ke-10 menyebut berbagai nama makanan yang hingga kini masih eksis".

Tak hanya prasasti, Kakawin Ramayana karya sastra dari abad ke-9 era Mataram Kuno juga menyebut pecel. Praktisi kuliner Indonesia, Wira Hardiyansyah, menerjemahkan kutipannya: "Semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya". Bait ini menggambarkan cara penyajian yang persis sama seperti kita menikmati pecel hari ini: dengan perasan jeruk nipis dan nasi.

Empat dekade setelah Prasasti Taji, Prasasti Siman dari Kediri (943 Masehi) juga mencatat hidangan serupa: makanan dari sayuran daun yang direbus dan diolah dengan bumbu rempah deskripsi yang sangat cocok dengan pecel. Ini menunjukkan pecel telah menyebar luas di Pulau Jawa sejak masa awal.

Lompat ke abad ke-17, Babad Tanah Jawi (1647 M) menceritakan bahwa Ki Ageng Karanglo menjamu Ki Ageng Pamanahan leluhur dinasti Mataram Islam dengan nasi, pecel, ayam, dan sayur menir. Versi lain mengaitkan pecel dengan Sunan Kalijaga, yang menjelaskan bahwa "sayur yang direbus kemudian diperas atau dipisahkan airnya" itulah yang disebut pecel. Ini menunjukkan pecel sudah menjadi bagian dari percakapan budaya di kalangan wali dan bangsawan Jawa.

Serat Centhini (1814 Masehi), ensiklopedia kebudayaan Jawa, juga menyebut pecel sebagai hidangan sayuran segar dengan siraman saus kacang yang biasa disajikan pada tamu kerajaan.

Lalu mengapa justru Pecel Madiun yang populer? Pada masa Hindia Belanda, para warok dari Ponorogo merantau ke berbagai wilayah Jawa Timur, membawa tradisi kuliner termasuk bumbu pecel. Di daerah Ponorogo utara, ada varian bumbu yang ditambahkan kunyit. Varian ini kemudian digemari masyarakat Madiun dan berkembang menjadi Pecel Madiun dengan ciri khas: tambahan jeruk purut pada bumbu, sayuran lebih beragam (kacang panjang, kembang turi, kecambah, kenikir, bayam, daun singkong, kemangi), trancam (timun cincang), dan penyajian dengan daun pisang.

Pecel bahkan telah menjadi duta kuliner Indonesia sejak awal abad ke-20. Pada 1 November 1922, pasangan Saiman dan Soedjirah mantan pembantu dari Betawi mendirikan restoran makanan Jawa di Den Haag, Belanda, bernama "Roemah Senengati" atau "Waroeng Djawa". Mereka menjual berbagai hidangan Indonesia, termasuk gado-gado dan pecel, dengan harga mulai 1,50 gulden. Menurut sejarawan Fadly Rahman dalam bukunya Rasa Tanah Air (2023), restoran ini populer di kalangan pekerja, pelajar, dan muslim dari Hindia Belanda. Sayangnya, restoran ini tutup setelah Saiman wafat karena tak ada penerus.

Hingga kini, di berbagai negara dengan diaspora Jawa seperti Suriname, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Timor Leste, pecel dikenal sebagai hidangan khas Indonesia yang diadaptasi.
Wira Hardiyansyah menyimpulkan: "Jika catatan tertua abad ke-9 telah menyebut istilah pecel, maka besar kemungkinan pecel telah menjadi budaya sebelum abad ke-9 dan bisa jadi pecel lahir Sebelum Masehi". Sebuah hipotesis yang masuk akal mengingat kesederhanaan bahan dan teknik pembuatannya.

Hari ini, saat seorang ibu mengulek sambal kacang, ia melakukan ritual yang sama dengan para perempuan di istana Mataram Kuno. Saat seorang anak kos menikmati nasi pecel bungkus, ia menyantap hidangan yang sama dengan para raja di abad ke-9. Pecel adalah benang merah yang menghubungkan kita dengan leluhursebuah warisan rasa yang tak lekang waktu.


 Referensi:

Wikipedia Indonesia. "Pecel."
DetikJatim. "Tahu Nggak Rek? Pecel Madiun Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan."
CNBC Indonesia. "Pembantu dari Betawi Kaya Raya Berkat Jual Gado-Gado di Luar Negeri."
BeritaSatu. "Menguak Fakta Menu Lalapan Sunda Lewat Prasasti Taji."
Tugujatim. "Di Balik Kelezatan Nasi Pecel Madiun, Konon Ada sejak Zaman Sunan Kalijaga."
DetikFood. "Pecel Tercatat Sejarah Sudah Dinikmati Sejak Abad 9 Masehi."
Kompas Travel. "Asal Usul Sayur Kol, dari Eropa hingga jadi Lalapan Orang Indonesia."
IDN Times. "11 Makanan Indonesia yang Dulu Cuma Jadi Hidangan Kerajaan."
Liputan6. "Jejak Pecel dalam Naskah Kuno Nusantara."
Rahman, Fadly. Rasa Tanah Air (2023).

Komentar

Postingan Populer