BIR PLETOK: Bir Halal yang Lahir dari Kejengkelan

 

 Bir pletok lahir pada masa kolonial Belanda, diperkirakan sekitar abad ke-20. Saat itu Batavia (Jakarta) menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Orang-orang Eropa sering mengadakan pesta meriah dengan wine sebagai minuman spesial.

Menurut JJ Rizal, budayawan Betawi, "Dahulu, pesta meriah kompeni diukur dari seberapa banyak minuman keras mengalir. Semakin meriah, semakin banyak wine yang mereka keluarkan." Masyarakat Betawi yang tinggal di sekitar sering mendengar suara letupan botol wine dibuka suara "pletok" yang khas. Ada rasa penasaran, bagaimana rasanya minuman merah di pesta mewah itu? 

Namun masyarakat Betawi adalah muslim taat. Minuman keras diharamkan. Mereka tak bisa mencicipinya, meski penasaran. "Jadi sebenarnya bir pletok adalah minuman yang dibuat menyerupai wine. Orang Betawi memilih rempah sebagai pengganti," jelas JJ Rizal.

Para leluhur Betawi bereksperimen. Mereka ingin minuman mirip wine. Warna merah menarik, efek hangat di badan, bisa disajikan di acara spesial tapi yang terpenting, tidak mengandung alkohol dan halal.

Mereka memanfaatkan kekayaan rempah Nusantara dari pekarangan sendiri: jahe, serai, kayu manis, cengkih, daun pandan, jeruk purut, dan yang paling penting kayu secang pemberi warna merah alami. Semua direbus bersama, menghasilkan minuman merah kecokelatan dengan aroma rempah kuat. 

Agar mirip bir yang berbusa, minuman ini dimasukkan wadah kaleng, ditambah es, lalu dikocok keras hingga muncul buih. Saat dikocok itulah terdengar bunyi "pletok pletok" dari benturan es dengan dinding kaleng. Herman Sani, peracik bir pletok dari Petamburan, menjelaskan: "Bir pletok dimasukkan ke tungku berisi es batu. Dikocok. Bunyi deh, pletak... pletok..." 

Nama "bir pletok" menyimpan filosofi dengan beberapa versi.

Tentang "bir": Ada yang mengatakan diadaptasi dari "beer" Belanda. Namun ada pandangan menarik: "bir" berasal dari Arab "Al-birr" yang berarti "kebaikan"upaya memberi identitas Islami pada minuman ciptaan mereka. 

Tentang "pletok": Direktorat Warisan Budaya Kemendikbud mencatat tiga asumsi:

  1. Bunyi dari bambu: Saat bahan dikocok dalam wadah bambu.
  2. Bunyi dari es batu: Benturan es dengan dinding teko.
  3. Bunyi dari buah secang: Kayu secang diambil dari buah tua yang dipukul hingga berbunyi "pletok".

Ada juga versi yang menyebut "pletok" terinspirasi bunyi letupan botol wine Belanda, atau bunyi kapulaga yang "pecah" saat direbus. Semua versi sepakat nama ini lahir dari bunyi-bunyian yang mengiringi proses pembuatannya.

Bir pletok terbuat dari campuran rempah pilihan yang memberikan cita rasa khas sekaligus manfaat kesehatan.

Bahan-bahan utama:
- Jahe: Pedas, efek hangat, anti-inflamasi.
- Serai: Aroma segar, antiseptik, antibakteri, penghangat.
- Kayu manis: Manis alami, membantu fungsi otak dan metabolisme.
- Cengkih: Kehangatan dan aroma.
- Daun pandan: Wangi khas, antidiabetes.
- Jeruk purut: Sentuhan segar.
- Kapulaga: Ikut menciptakan bunyi "pletok".
- Kayu secang: Pemberi warna merah alami, mengandung asam galat dan tanat untuk gangguan pencernaan.
- Gula pasir/batu: Pemanis.

Semua direbus hingga air berkurang dan warna merah keluar. Setelah dingin, bisa disajikan hangat atau dingin dengan es. Karena kaya rempah, bir pletok dipercaya melancarkan peredaran darah, meredakan masuk angin, menghangatkan tubuh, dan kaya antioksidan. 

Bir pletok mengajarkan bahwa identitas tidak harus kaku. Ia bisa lentur, beradaptasi, tanpa kehilangan jati diri. Masyarakat Betawi tak kehilangan keislaman hanya karena menciptakan minuman bernama "bir". Justru, mereka menunjukkan Islam bisa berdialog dengan budaya lokal dan asing, menghasilkan sesuatu baru namun tetap sesuai syariat.

Bir pletok adalah bukti bahwa dari keterbatasan dan kejengkelan, bisa lahir karya yang bertahan lintas generasi. Warisan yang patut kita jaga, lestarikan, dan banggakan.

Seperti kata pepatah Betawi, "Hidup orang Betawi, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Mereka menjunjung keyakinan, tapi berpijak pada realitas. Bir pletok adalah bukti nyata filosofi itu.

Referensi:
DetikFood. "Sejarah Bir Pletok, Rasa, hingga Filosofi Namanya." 17 Maret 2025.
PKS Jakarta. "Ketua PKS Ranting Pancoran Pintar Membuat Bir Pletok." 3 Maret 2015.
Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. "Bir pletok." 4 Agustus 2014.
Kompas.com. "Asal-usul Bir Pletok, "Wine" Orang Betawi yang Bebas Alkohol." 24 Agustus 2024.
DetikFood. "Bir Pletok, Bir Halal yang Menyehatkan Racikan Orang Betawi." 22 Juni 2015.
RRI.co.id. "Bir Pletok, Minuman Legendaris Penghangat Badan Warisan Budaya." 11 Juni 2025.
Rasamasa. "Resep Bir Pletok."
Telkom University. "BIR PLETOK 'WINE' ASAL BETAWI." 30 April 2024.
Republika.co.id. "Bir Pletok, Bir Halal Orang Betawi." 23 Agustus 2020.

Komentar

Postingan Populer